Kita pernah berjalan beriringan di malam itu.Saat kau berucap kau tak yakin akan arah jalan kita,saat itulah ribuan kunang-kunang datang dan menyinari malam temaram.
Kita juga pernah berjalan dalam suatu lorong masa yang amat muram, saat aku tak yakin akan kebenaran yang tak pernah berpihak pada kita, saat itulah ribuan kunang-kunang datang menyinari hatiku dan hatimu yang terlanjur padam.
Kita juga pernah lari dari kejaran kebohongan dan kemunafikan, saat kau berucap kau tak yakin akan ku,saat itulah ribuan kunang-kunang yang berwarna merah keemasan datang dan merasuk ke jiwamu yang terlanjur menghitam.
Aku,dirimu dan kunang-kunang.
Suatu hari nanti,di hari yang amat indah,akan kuajak kau pergi melihat ribuan kunang-kunang yang bersinar terang.Di sebuah padang rumput yang hijau, di temani angin malam yang bertiup perlahan.
Ribuan kunang-kunang akan datang,
Saat hatimu tak lagi yakin padaku,saat hatiku telah pecah berkeping ,saat hatimu dan hatiku kerap berselisih paham..
Aku,dirimu dan kunang-kunang yang bersinar terang.

Belakangan ini gue baru menyadari, kalau anak kampus a.k.a Mahasiswa itu keren banget. Gimana enggak ? Mereka rela nih, jauh-jauh berangkat dari kampus, dimana pun itu, bawa-bawa spanduk seadanya dengan pilok merah, nyewa mobil sound, jingkrak-jingkrakan, panas-panasan di bawah terik matahari, demi satu hal, MEMBELA RAKYAT, GRATISSS, ga pake bayar ( yah, walaupun mungkin di beberapa belahan dunia atau negara ini ada yang dibayar).
Atau anak-anak muda ini rela meriksain bukti-bukti, atau pun kuitansi-kuitansi dan melakukan proses “audit”, walaupun sederhana ala mahasiswa. Mereka rela, gratis ! .Coba bayangin, mana ada di belahan dunia ini auditor yang mau di bayar gratis.Diajak lembur juga mau ini anak-anak.
Coba juga bayangin ada sekelompok anak muda yang rela begadang tiap hari, diskusi sampai malam, bahkan kadang sampai pagi demi membuat dan menyukseskan sebuah acara, tanpa dibayar, grattisss ! Coba sekarang bayangin, mana ada Event Organizer yang mau bikin acara gede-gedean secara gratis, bahkan kadang-kadang nombok pula.
Jadi, kadang-kadang mahasiswa itu memang habitatnya di luar batas pemikiran normal, diatas akal sehat.Walaupun kadang-kadang agak gaya-gayaan.haha..gapapaplah yang penting punya gaya !. Maka gak heran, mahasiswa bisa menumbangkan diktator sekelas Soeharto, dan mungkin juga diktator-diktator lainnya di negeri ini. Cuman yang belum, diktator yang tinggal di depan danau kenanga aja nih !
Jadi, terus berjuang duhai mahasiswa ! Pagar nan berduri kau terobos, kesewenangan dan ketidakadilan kau hancurkan. Hidup Mahasiswa !

NB : Ini bukan foto saya atau teman-teman saya. Aniwei,selamat ya yang udah di wisuda !
“Adilkah jika rakyat miskin harus mensubsidi orang yang lebih kaya yang lebih sering menggunakan BBM?”
—
(via kuntawiaji)
jadi tergelitik untuk melempar pertanyaan tambahan ,
“tapi,apakah adil, rakyat yang miskin,nunjauh di daerah,yang saat ini saja harga bbm yang mereka beli diatas Rp 10.000, yang distribusinya acak adut, harus kembali menerima ekses dari pencabutan subsidi ini, dari arogansi pemerintah ? “
Aku membayangkan melihatmu berdandan di pagi hari, membersihkan caping dan pacul ku untuk berladang, menanak nasi dan lauk pauk seadanya. Orang menyangka kita miskin dan tak berpunya, tapi tidak bagi kita. Bagiku,engkau lah kebahagianku, pun dengan pacul berkarat dan caping berlubang itu.
Manakala hujan datang, kau bergegas pergi keluar untuk mengambil selembar daun pisang panjang, dan menutupnya diatas kepala kita. Atap kita memang bocor dan berlubang, namun tak sepatah keluh kesah terucap dari bibir kita.
Manakala panas terik menghadang, aku buatkan kau sebongkah minuman kelapa muda yang kupetik dari pohon di halaman belakang. Aku buatkan kau minuman ini tanpa gula, karena memang kita tak punya, dan kau terima sebongkah kelapa muda ini dengan lapang.
Bagiku, cukup dengan seulas senyum tulusmu membuatku bersemangat ke ladang dari pagi hingga petang. dan bekal nasi dan tempe bacem buatanmu menemani di saat ku tak sanggup menahan teriknya matahari.
Bagiku, dunia yang terasa berat ini begitu ringan, dan dunia yang begitu jauh jadi terasa dekat.
Bagiku,inilah duniaku.Dunia tanpa ekspektasi dan eksploitasi. Aku tak mengenal pemerintah, aku tak mengenal pemodal asing, aku juga mengenal lembaran-lembaran rupiah.
Bagiku,hidupku hanya untuk hari ini, esok kita berjuang lagi.
Inilah hidupku..
Aku hidup di dunia tanpa ekspektasi

Belakangan ini, timeline twitter penuh banget sama isu-isu seputar BBM (Bahan Bakar Minyak-bukan kayak judul diatas.hehe). Ada yang nolak, ada yang terima,bahkan ada yang sampai mencaci maki pihak-pihak tertentu yang setia dengan pendapatnya. Well said, ini demokrasi cing..monggo berkomentar asal sopan.
Opini,satu
Oke, gue disini mau nyampein opini gue, suka ga suka, seneng ga seneng, ini yang gue pikirin. Terkait kenaikan BBM , gue pribadi menolak kenaikan BBM, walau memang pemerintah punya argumentasi yang mumpuni dengan APBN yang akan menanggung kenaikan harga minyak dunia yang terus menanjak dan seterusnya. Ya, itu benar, tapi pertanyaannya sekali lagi apakah rakyat kecil diujung sana, diujung daerah nun jauh di ibu pertiwi, yang sehari-hari merasakan harga bbm diatas Rp 10.000/liter, yang tiap hari naik angkot setengah mati, yang kerja siang malam demi sesuap nasi, yang distribusi bbmnya acak adut, antri setengah mati, pas mati juga belom tentu dapet, harus menanggung excess dari kenaikan harga BBM,arogansi pemerintah ? Yah, anak ekonomi pasti tau harga BBM naik, harga apalagi yang akan ikut naik. Mungkin kita, yang hidup di menara gading ini, yang hidup dengan segala fasilitas dan kemewahan, tidak akan merasa kenaikan BBM itu signifikan,”its just a matter of adjustment”. itu cuma masalah penyesuaian aja..
Benar ! tepat ! tapi coba sekali-sekali kita putar sedikit kepala kita, coba sedikit menundukkan ego kita, arogansi kita, lihat ke bawah, apakah mereka semudah kita ? apakah mereka juga ” a matter of adjustment” ?
Ini sebenarnya sama dengan segala kesalahan pemerintah di tumpahruahkan ke rakyat, ya mungkin rakyat menara gading seperti kita tidak terasa, tapi rakyat miskin ? Segala ketidak efisienan pemerintah dalam pengelolaan APBN, segala kesalahan pemerintah dalam UU Migas yang menyatakan bahwa harga BBM dihitung dari harga pasar, ketidakbecusan pertamina dalam mendistribusikan minyak, kebodohan pemerintah yang seenaknya memberikan konsesi pertambangan migas untuk perusahaan asing, korupsi yang menggerogoti APBN , haruskah ini semua rakyat kita yang menanggung ? saya tanya sekali lagi, haruskah rakyat miskin yang menanggung ?
bahkan kalaupun mereka tidak membayar pajak (salah satu sumber pendapatan APBN) , mereka juga rakyat indonesia, mereka juga tumpah ruah bangsa ini.
Opini,Dua
Seharusnya pemerintah menyadari bahwa akar dari ini semua adalah dirinya sendiri. Mulailah berbenah, mulailah merapaikan organisasi, efisiensi APBN, tutup kebocoran, revisi UU Migas, perkuat lagi penyerapan pajak.jadikan rakyat kita yang menjadi tujuan utama. lakukan pemabatasan BBM, motor dan angkutan umum dapat BBM bersubsidi, yang lain tidak. Jangan pukul rata segala kesalahan ini di pundak rakyat. Entahlah,apakah artikel kwikiangie tentang kebohongan pemerintah soal APBN benar atau tidak, yang jelas gue sudah cutau (cukup tau )aja sama pemerintahan ini. Ini yang harusnya jadi titik tolak solusi pemerintah, susah ? jelas susah ? tapi kalau mau yang terbaik memang harus kearah sana.
Opini,Tiga
Terkait kebijakan BEM UI yang menolak kenaikan BBM, banyak warga UI,FE mungkin tepatnya yang merasa BEM UI menjadi terlalu populis, bahwa hasil kajian teman-teman FE menunjukkan bahwa kenaikan BBM adalah sebuah keniscayaan. Well said, kajian itu memang dahsyat banget, komprehensif dan luar biasa. Tapi perlu dicatat juga bahwa pergerakan bukan sekedar kajian semata, ia juga punya asas hati nurani, aspirasi rakyat kecil, mendengar berbagai kebutuhan warga, ia juga bergerak berdasarkan jeritan rakyat, bukan sekadar analisa ekonomi. Benar, kita punya ilmu yang harus diimplementasikan, benar bahwa kita punya kewajiban menjaga nama baik ilmu karena kita akademisi, tapi kita juga punya kewajiban moral dan historis sebagai garda terdepan pembela rakyat, kita punya kewajiban menjadi pembela rakyat nomor satu. Jadi, segala keputusan demo dan tidak , tidak hanya diambil dari satu atau dua kajian belaka (tanpa bermaksud mengecilkan arti kajian, kajian tetap luar biasa).
Opini,Empat
BLT ? BLSM ? pasti semuanya sudah tau apa itu BLT ? tujuannya untuk meredam shock akibat kenaikan bbm, sifatnya jangka pendek. But, i told you, this is tottaly politics ! BLT ini akan menjadikan partai penguasa -Demokrat- terlihat baik di depan rakyat, dan kasihannya, partai koalisi bukan malah mendapat tanggapan positif, tapi malah di cap sebagai partai pendukung kenaikan BBM,bukan pemberi BLT. Miris. Dan gue pribadi gak percaya kalau di tahun-tahun menjelang kampanye, BBM akan turun lagi, yang efeknya akan melipatgandakan dukungan untuk partai penguasa-Demokrat. dan sekali lagi, kita menjadi jongos dari tipu-tipu pemerintah. Bersiaplah !
Akhir kata, ini mungkin opini bodoh,tanpa kajian. tapi yakinlah ini keluar dari relung hati paling dalam, dari jeritan rakyat di ujung pulau dan dari secercah harapan yang selalu datang disaat yang paling kelam.
Arrivederci
